Selasa, 28 Oktober 2014

Guru Killer vs Murid Ndableg

Saat Guru Killer dan Murid Ndableg

Kali ini Pak Guru punya kisah unik tentang Guru Killer yang Bertemu Murid Ndableg. Kisahnya gak serius kok, malah mungkin bisa membuat kalian tersenyum.
Kalau Guru Killer bertemu murid pendiam itu sih biasa, apalagi murid ndableg bertemu dengan Guru sabar, sudah basi kali ya. Nah sekarang kebayang gak, apa jadinya kalau Guru Killer yang terkenal temperamental dan suka menghukum berhadapan dengan siswanya yang super duper ndablegnya. Hmmm…gimana ya?
Oke deh daripada bikin penasaran terus, lebih baik segera klik continue reading di bawah ini untuk menyimak kisah lengkapnya!
Pelajaran Tentang Antonim
Kelas yang tadi ribut-ribut tanpa guru, kini menjadi sunyi. Guru Bahasa Indonesia yang paling ditakuti Dan disegani oleh semua murid telah masuk ke dalam kelas. Wajahnya garang seperti harimau kelaparan.
Murid-murid : Selamat pagi, Bu Guru!
Bu Guru (dengan suara melengking) : Mengapa bilang selamat pagi saja? Kalau begitu siang, sore Dan malam kalian mendoakan saya tidak selamat ya?
Murid-murid : Selamat pagi, siang Dan sore Bu Guru…..
Bu guru : Kenapa panjang sekali? Tidak pernah orang mengucapkan selamat seperti itu! Katakan saja selamat sejahtera, bukankah lebih bagus didengar Dan penuh makna? Lagipula ucapan ini meliputi semua masa Dan keadaan.
Murid-murid : Selamat sejahtera Bu Guru!
Bu guru : Sama-sama, duduk! Dengar sini baik-baik. Hari ini Bu Guru mau menguji kalian semua tentang perlawanan kata atau antonim kata. Kalau Bu Guru sebutkan perkataannya, kamu semua harus cepat menjawabnya dengan lawan katanya, mengerti?
Murid-murid : Mengerti Bu Guru…


Guru : Pandai!
Murid-murid : Bodoh!

Guru : Tinggi!
Murid-murid : Rendah!
Guru : Jauh!
Murid-murid : Dekat!
Guru : Berjaya!
Murid-murid : Menang!
Guru : Salah itu!
Murid-murid : Betul ini!
Guru (geram) : Bodoh!
Murid-murid : Pandai!
Guru : Bukan!
Murid-murid : Ya!
Guru (mulai pusing) : Oh Tuhan!
Murid-murid : Oh Hamba!
Guru : Dengar ini…
Murid-murid : Dengar itu…
Guru : Diam!!!!!
Murid-murid : Ribut!!!!!
Guru : Itu bukan pertanyaan, bodoh!!!
Murid-murid : Ini adalah jawaban, pandai!!!
Guru : Mati aku!
Murid-murid : Hidup kami!
Guru : Saya rotan baru tau rasa!!
Murid-murid : Kita akar lama tak tau rasa!!
Guru : Malas aku ngajar kalian!
Murid-murid : Rajin kami belajar bu guru…
Guru: Kalian Gila semua!!!
Murid-murid : Kami waras sebagian!!!
Guru : Cukup! Cukup!
Murid-murid : Kurang! Kurang!
Guru : Sudah! Sudah!
Murid-murid : Belum! Belum!
Guru : Mengapa kamu semua bodoh sekali?
Murid-murid : Sebab saya seorang pandai!
Guru : Oh! Melawan, ya??!!
Murid-murid : Oh! Mengalah, tidak??!!
Guru : Kurang ajar!
Murid-murid : Cukup ajar!
Guru : Habis aku!
Murid-murid : Kekal kamu!
Guru (putus ASA) : O.K. Pelajaran sudah habis!
Murid-murid : K.O. Pelajaran belum mulai!
Guru : Sudah, bodoh!
Murid-murid : Belum, pandai!
Guru : Berdiri!
Murid-murid : Duduk!
Guru : Bego kalian ini!
Murid-murid : Cerdik kami itu!
Guru : Rusak!
Murid-murid : Baik!
Guru (stres) : Kamu semua ditahan siang Hari ini!!!
Murid-murid : Dilepaskan tengah malam itu!!!
Bu Guru mukanya merah padam dan tanpa bicara lagi mengambil buku-bukunya dan keluar ruangan, kemudian mengajukan pengunduran dirinya sebagai guru.
Sepenggal Celoteh Guru
Apa kesimpulan anda setelah membaca kisah di atas kawan? Tentu ada beragam persepsi yang berkecamuk di benak anda.
Saya sengaja menyajikan tema Guru Killer ini dalam bentuk kisah. Walaupun sebenarnya bisa saja menampilkannya dalam bentuk analisis yang komprehensif. Namun analisis komprehensif sepertinya sudah terlalu banyak dimuat di media massa maupun elektronik dan ternyata toh tidak ada perubahan yang signifikan untuk menghapus fenomena Guru Killer tersebut.
Juga terlalu muluk rasanya mengharapkan ada perubahan dari penerbitan artikel khusus ini. Saya hanyalah guru biasa dan bukan penentu kebijakan dalam lingkup pendidikan. Namun apa salahnya saya mengajak diri pribadi dan pembaca blog saya yang cuma segelintir ini untuk lebih waspada dan melindungi putra-putri kita masing-masing. Mari kita bergandeng tangan ikut membackup peranan guru selaku pendidik dengan memberikan pendidikan keluarga yang lebih baik.
Perlu kita ketahui bersama bahwa fenomena Guru Killer sepertinya akan tetap muncul sepanjang zaman. Seorang guru ketika memutuskan sebuah tindakan jelas memiliki alasan pribadi walaupun terkadang tidak rasional. Tapi sekecil dan setidakrasional apa pun alasan guru tetaplah sebuah bentuk akibat. Dan akibat ini tentu berasal dari sebab. Selama sebab ini tidak terselesaikan terlebih dulu maka dapat dipastikan cerita tentang Guru Killer yang menghajar siswanya sampai babak belur akan selalu menghiasi ranah pendidikan kita. Namun alangkah bodohnya kita bila selalu terlambat untuk mendeteksi masalah yang sedemikian klasik ini.
Fenomena yang tak kalah menarik adalah tentang siswa yang ndableg. Siswa ndableg adalah siswa yang sudah dihukum berkali-kali tapi tetap saja tidak ada perubahan. Segala teknik pendekatan hukuman sudah dilancarkan tapi tetap saja ia melanggar aturan. Bahkan tidak jarang si murid tersebut menantang gurunya untuk sengaja menghukumnya. Kalau bisa sesadis mungkin agar bisa menuntut balik Guru tersebut dengan tuduhan telah melakukan tindak kekerasan. Dalam kondisi seperti ini biasanya orang tua, masyarakat, polisi, dan media massa tidak mau tahu. Hanya yang tersurat saja yang dinilai tanpa melihat apa sebenarnya latar belakangnya.
Sebelum saya akhiri tulisan ini, saya ingin berpesan kepada anda semua selaku orang tua siswa.
  • Dengan telah menyekolahkan anak, jangan lantas anda bernafas lega dan tidak lagi memperhatikan putra-putri anda. Ingat, sekolah bukanlah bengkel.
  • Waktu terbanyak anak dalam sehari adalah di rumah, jadi berikan kepada putra-putri anda pendidikan keluarga yang terbaik di rumah.
  • Anak yang terlihat pendiam di rumah belum tentu ia baik di luar rumah, sebaliknya anak yang terlihat pendiam di sekolah belum tentu ia berperilaku baik di rumah. Jadi waspadalah untuk tidak terkecoh.
  • Pelajaran budi pekerti anak yang paling dominan diserap dari pergaulan teman, bacaan, tontonan, dan lingkungannya. Jadi perhatikan elemen-elemen tersebut.
  • Jalin komunikasi yang baik dengan anak, tapi ingat anda harus lebih banyak mendengar daripada berbicara.

1 komentar:

  1. Perkenalkan, saya dari tim kumpulbagi. Saya ingin tau, apakah kiranya anda berencana untuk mengoleksi files menggunakan hosting yang baru?
    Jika ya, silahkan kunjungi website ini www.kbagi.com untuk info selengkapnya.

    Di sana anda bisa dengan bebas share dan mendowload foto-foto keluarga dan trip, music, video, filem dll dalam jumlah dan waktu yang tidak terbatas, setelah registrasi terlebih dahulu. Gratis :)

    BalasHapus